Posted by: PKBM26 | 20 May 2008

PKBM, Sebuah Jalan untuk Mandiri

APAKAH Anda siap untuk mandiri?” Jika pertanyaan itu Anda lontarkan kepada siswa SMA ataupun mahasiswa perguruan tinggi yang baru saja lulus, sebagian besar dari mereka akan menjawab tidak. Lulusan SMA dan perguruan tinggi umumnya memilih bekerja untuk orang lain alias menjadi karyawan. Mereka tidak dididik untuk mandiri membuka usaha sendiri atau menciptakan lapangan pekerjaan.

Di saat krisis moneter tahun 1997 menghempas perekonomian Indonesia, ternyata kerja-kerja sektor informal ataupun pekerjaan yang berbasis keterampilan tidak ikut terpuruk. Ketika usaha bermodal besar berjatuhan, usaha-usaha bermodal kecil ini justru hidup. Indonesia bisa bertahan hidup dari sektor usaha kecil menengah (UKM) ini.

Orang pun menyerbu kursus-kursus praktis yang memberikan keterampilan kerja siap pakai, yang siap dijadikan sebagai modal kerja mandiri. “Ada lulusan IPB yang kebingungan mencari pekerjaan. Dia lalu ikut kursus menjahit selama tiga bulan. Sekarang dia sudah setengah konglomerat dari usaha menjahit,” kata Direktur Pendidikan Masyarakat (Dikmas) Departemen Pendidikan Nasional Ekodjatmiko Sukarso.

Animo masyarakat terhadap pendidikan nonformal ini tidak bisa dibilang kecil. Sekarang ini di Indonesia tercatat ada 22.510 lembaga kursus dan pelatihan. Sementara itu, jumlah seluruh perguruan tinggi (PT) di Indonesia hanya sekitar 3.000.

Sayangnya, tidak semua orang memiliki dana cukup untuk mengikuti kursus-kursus yang memberikan keterampilan khusus tersebut. Oleh karena itu, sejak tahun 1998 Direktorat Pendidikan Masyarakat mulai merintis pembentukan wadah kegiatan belajar yang diberi nama Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) yang menyediakan pendidikan formal dan nonformal secara gratis bagi warga masyarakat kurang mampu.

Masyarakat dapat memilih kegiatan berdasarkan dengan kebutuhan dan masalahnya. Kegiatan PKBM terbagi dalam tujuh jenis, yakni: pendidikan, di mana warga dapat mempelajari berbagai hal melalui berbagai sumber, seperti guru, pelatih, narasumber teknis, kursus-kursus pelatihan, tetangga, teman, maupun dari tetangga desa melalui observasi atau kunjungan.

Keterampilan kerja, di mana warga dapat meningkatkan kemampuan kerja mereka melalui pembelajaran dari tokoh masyarakat, narasumber teknis, berbagai media pendidikan, dan melalui kerja nyata di masyarakat. Kegiatan seperti ini memungkinkan warga meningkatkan tingkat pendapatannya yang sekaligus mendorong perbaikan terhadap landasan ekonomi masyarakat.

Layanan informasi, di mana warga masyarakat dapat mengikuti kegiatan belajar sepanjang hayat kapan pun mereka inginkan. Kegiatan-kegiatan ini dapat meliputi membaca buku dati taman bacaan masyarakat (TBM), mengunjungi pameran, membaca majalah dinding, mendengarkan program radio, menyaksikan program televisi, atau mencari informasi dari Internet.

Rekreasi, di mana warga dapat mengikuti beragam kegiatan permainan untuk meningkatkan daya pikir dan kesehatan badannya. Kegiatan ini meliputi latihan fisik, kompetisi olahraga, menari, menyanyi, drama, melukis, dan merangkai bunga. Semuanya di samping bertujuan menjalin kesatuan di antara warga masyarakat, juga dengan masyarakat tetangga.

Kesehatan dan kebersihan, ini merupakan kegiatan di mana warga dapat mempelajari cara-cara pencegahan penyakit, kesehatan dasar, dan gizi makanan yang lebih baik.

Kegiatan peningkatan kualitas hidup akan memberikan pengetahuan yang bermanfaat bagi warga masyarakat untuk pemenuhan kebutuhan khusus mereka. Kelompok ini meliputi perempuan, pemuda, orang tua, dan penyandang cacat.

Kegiatan agama dan budaya dapat diikuti warga, di mana tetua dan ulama setempat dapat menularkan keahlian dan sifat bijak yang mereka miliki kepada generasi berikutnya. Kegiatan ini memberikan kontribusi terhadap pendidikan sepanjang hayat secara berkelanjutan melalui pemanfaatan pengetahuan yang telah ada di masyarakat dan sekaligus membuka kesempatan bagi setiap orang untuk menggagas, membuat keputusan, dan bertindak menuju tujuan akhir: pemberdayaan masyarakat.

SEBAGAI salah satu institusi pendidikan nonformal/pendidikan masyarakat dan wadah pembelajaran dari, oleh, dan untuk masyarakat, maka PKBM bersifat fleksibel dan netral. PKBM disebut fleksibel antara lain karena ada peluang bagi masyarakat untuk belajar apa saja sesuai dengan yang mereka butuhkan. Di PKBM, warga masyarakat di bawah bimbingan tutor dapat secara demokratis merancang kebutuhan belajar yang mereka inginkan.

Misalnya, di suatu PKBM dapat diselenggarakan beberapa program pembelajaran yang beraneka ragam, seperti program Kelompok Belajar Usaha, Keaksaraan Fungsional, Paket A setara SD, Paket B setara SMP, Paket C setara SMA, kursus menjahit, kursus merias pengantin, kursus las, atau program keterampilan lainnya.

PKBM bersifat netral karena tidak menggunakan atribut Dikmas atau pemerintah. Oleh karena itu, semua lembaga/instansi pemerintah atau swasta, lembaga swadaya masyarakat (LSM), atau pihak-pihak lain dapat memanfaatkan keberadaan PKBM sepanjang untuk kepentingan kemajuan masyarakat. Misalnya ada PKBM yang diselenggarakan oleh LSM, pesantren, atau lembaga- lembaga keagamaan, organisasi masyarakat, serta yang diprakarsai oleh perusahaan. Dikmas berperan memfasilitasi, sedangkan prakarsa ada pada masyarakat itu sendiri.

Jumlah PKBM hingga saat ini tercatat sebanyak 1.896 unit. “Dari jumlah itu tidak ada satu pun PKBM bikinan pemerintah, begitu juga kursus. Semua bergantung pada permintaan pasar. Setelah PKBM didirikan masyarakat, baru diberitahukan kepada Dikmas,” kata Ekodjatmiko.

Pemerintah hanya memberikan block grant untuk perbaikan manajemen dan mutu PKBM. Pada tahun 2001, sebanyak 400 PKBM menerima block grant dari pemerintah, masing-masing sebesar Rp 50 juta. Pada tahun 2002, sebanyak 300 PKBM dan tahun 2003 sebanyak 312 PKBM. Pemberian block grant ini didasarkan pada kompetisi proposal yang masuk. Yang dinilai adalah kinerja dari PKBM tersebut.

“Kalau PKBM itu memang bisa mengakomodasi banyak kegiatan, seperti buta aksara, putus sekolah, dan kursus keterampilan, sehingga masyarakat di sekitarnya bisa bangkit, maka PKBM itu kita beri block grant,” kata Ekodjatmiko.

Data dari Dikmas menyatakan, per akhir Desember 2003 tercatat angka buta huruf di Indonesia untuk usia 10 tahun ke atas sebesar 18,7 juta penduduk, sedangkan mereka yang putus sekolah dasar sebanyak 200.000-300.000 orang per tahun.

Tentulah angka-angka tersebut masih terbilang besar. Untuk mengurangi jumlah mereka yang masih buta aksara maupun yang putus sekolah, keberadaan PKBM sangat diperlukan. “Wilayah PKBM ini adalah remote areas yang akses ke sekolah tidak ada, maka diadakan PKBM. Kegiatannya bisa di mana saja, seperti di Desa Pekraman, Bali, kegiatan belajarnya dilakukan di banjar desa. PKBM itu generik name, dia bisa disebut apa saja. Misalnya, sanggar belajar masyarakat,” ujar Ekodjatmiko.

Dalam rangka peningkatan kualitas dan pemberdayaan PKBM dalam era otonomi daerah yang sudah berlangsung sejak awal tahun 2001, maka dirasakan perlu adanya strategi baru dalam pengembangan PKBM di masa mendatang. Strategi yang diperlukan di antaranya adalah perlu adanya antisipasi terhadap kebutuhan belajar yang beraneka ragam. Untuk itu dianggap sudah mendesak perlu dikembangkan program yang beraneka ragam (diversifikasi dan diferensiasi).

Untuk mempersiapkan pemandirian PKBM, perlu adanya unit-unit produksi usaha yang relevan dengan keadaan lingkungan. Perlu dikembangkan pusat informasi dan pemasaran hasil-hasil usaha PKBM di setiap kabupaten/kota. Perlu dikembangkan model lembaga pengembangan bisnis di PKBM yang potensial untuk pembelajaran usaha. Untuk mengukur kemajuan PKBM, perlu dikembangkan kriteria dan alat ukur yang jelas sehingga setiap PKBM dapat menilai kinerja sendiri.

PKBM memang bisa menghidupkan daerah. Kursus-kursus yang digelar pun tidak sembarangan karena di akhir kursus ada uji kompetensi, seperti ujian nasional maupun internasional. Umpamanya, kursus bahasa Mandarin atau sempoa. Bahkan, kursus merangkai bunga pun ujiannya ada yang di Belanda dan Amerika. Produk- produk yang dihasilkan oleh mereka yang belajar di PKBM ada yang berkualitas ekspor, seperti mebel-mebel dari bahan baku eceng gondok. Hasil penjualannya pun dapat diputar kembali untuk kegiatan PKBM dan dapat menghidupi warganya. (kompas)

link artikel : http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0405/01/Didaktika/999897.htm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: