Posted by: PKBM26 | 23 May 2008

Sekolah SD – SMA Negeri di Jakarta Gratis?

Pendidikan Gratis bukan utopiaOleh: Muhammad Kurtubi

Ada berita menarik yang datang dari dinas permerintah DKI Jakarta. Guberbur terpilih, H. Fauzi Bowo memberikan kebijakan pendidikan gratis untuk SD dan SMP negeri. Bahkan untuk tahun 2008 ini diberlakukan juga bagi siswa SMU. Pelaksanaanya itu akan ditanggung oleh Pemprov DKI. Namun sayangnya, program yang akan dimulai pada tahun 2008 ini hanya siswa yang tidak mampu, namun memiliki prestasi, yang akan mendapat beasiswa.

Hal itu diungkapkan oleh H. Fauzi Bowo atas komitmentnya untuk menggratiskan pendidikan kepada pelajar miskin dari SD hingga SMU. Meskipun hanya untuk anak-anak berprestasi, namun kabar ini sangat menggembirakan. Sebab di tengah krisis yang masih mendera bangsa ini, kebijakan pemerintah untuk menggratiskan pendidikan ini sangat ditunggu-tunggu.

“Kita berusaha untuk melanjutkan kebijakan sekolah gratis untuk SD dan SMP negeri. Jadi, kalau ada kepala sekolah dan guru yang melakukan pungutan uang pangkal, ya akan kita usut,” kata Fauzi seperti ditulis dalam situs Dikmenti DKI Jakarta. Pernyataan itu disampaikan di sela-sela acara melepas parade jalan sehat yang diikuti lebih kurang 10.000 warga Jakarta dalam rangka parade untuk kebangkitan pendidikan nasional, di Silang Monas, Minggu kemarin.

Sebuah konsekwensi yang patut diacungi jempol meskipun masih terbatas untuk mereka yang berprestasi. sebab tidak jarang orang-orang miskin yang memiliki anak-anaknya yang cerdas masih terbengkalai pendidikanya. Alasanya adalah karena di setiap sekolah pungutan biaya pendidikan cukup mahal. Misalnya di salah satu SMU di wilayah Kebayoran berkisar antara 100-200 ribu perbulan. Kebijakan ini tidak membatas si miskin atau si kaya.

Dengan adanya kabar ini, semoga saja para pelajar cerdas dari kalangan orang tidak mampu bisa bersaing dalam dunia global dan pada akhirnya pendidikan merata untuk semua pelajar. ]

Namun dalam pelaksanaanya kita berharap jangan sampai kebijakan dari Gubernur ini memble di tingkat pelaksana pendidikan. Sebab boleh jadi, meskipun di tingkat pusat kebijakan menggratiskan pendidikan ini diberlakukan, maka di tingkat bawah si pelajar ini justru dibebani dengan biaya-biaya di luar pendidikan misalnya biaya keterampilan, kurusus atau biaya ekstra kurikuler yang bermacam-macam.

Karena itu, kita mengharapkan agar memperoleh kejelasan dan kemudahan dari dinas pendidikan itu untuk melayani mereka yang haus pendidikan namun tak berbiaya. Dengan adanya kesiapan para pelaksana pendidikan untuk menerima mereka dan tidak membeda-bedakan di anatar mereka, maka semoga saja pendidikan bagi kaum miskin bukan menjadi kendala tetapi justru pelaung yang sama dengan para pelajar dari kalangan yang mampu. Terima Kasih pak Fauzi.

*Tutor Paket B dan C


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: