Posted by: PKBM26 | 4 December 2009

Kok Bisa Lupa?

Oleh Rachadian Saputra

Manusia itu gudangnya lupa. Kita lupa pada sejarah. Anak lupa pada ayah. Ayah lupa pada ibu, ibu lupa pada perannya. Bangsa kita lupa pada perannya. Bangsa kita lupa pada kebudayaannya. Yah pada hakikatnya ingatan manusia memang terbatas adanya.

Lupa itu tidak ingat. Banyak contohnya, kalau orang mau jadi pejabat minta berkat di tempat-tempat keramat, supaya lekas diangkat dan cepat-cepat naik pangkat. Waktu kampanye, janjinya pada rakyat hebat-hebat, dengan pidato yang memikat. Sesudah menjabat uang rakyat malah disikat. Tidak ingat itu karena malas mencatat. Malas mencatat itu karena bawaan lahir, karena pada hakikatnya kita lebih senang di dongengi. Tinggal lenyeh-lenyeh tanpa harus berpikir.

Nenek moyang kita punya cerita. Konon Negoro Kuswantoro itu negara yang gemah ripah lohjinawi, tata titi tentrem karta tur raharjo. Disana tidak ada panas yang terlalu, tidak ada dingin yang terlalu, yang ada cuma ayem tentrem, ayem tentrem, eeemmmm koyo siniram banyu sewindu lawase.

Tapi kenyataannya saudara- saudara, negara kita tengah sekarat. Para birokrat cuma cari nikmat, sedang rakyat jelata tetap melarat. Padahal kita ini tinggal di negeri kaya, yang tanah dan airnya kaya penuh harta.

Kita tinggal di negeri yang ramah, tapi sekarang negeri kita seperti remah-remah, padahal hutan dan laut kita penuh anugrah. Karena para pemimpin pada serakah, akibatnya rakyat kecil hidupnya susah.

Kita ini tinggal di negeri yang rakyatnya tidak menyimpan dendam.
Kita lupa pernah di jajah. Belanda kita mafkan dan Jepang tidak seberapa dibanding penjajah baru di negeri kami…

Buktinya kita masih terus di jajah. Lihatlah televisi kita telah menjadi agen imperalisme, menjadi corong kapitalisme, dan menyebarkan budaya konsumerisme. Desa yang dulu perawan sekarang di jarah iklan, yang di kemas secara menawan . itulah penjajahan baru di negeri kami berbentuk pemeliharaan kebodohan dan peternakan kemiskinan yang tak berkesudahan…Oh tuhan! Itu jauh lebih menakutkan.

Bangsa ini terlalu banyak punya masalah. Pemerintah semakin tak jelas arahnya. Rakyat jelata cuma bisa pasrah. Di Senayan wakil rakyat cuma rapat, yang dibahas tak ada hubungannya dengan kepentingan rakyat.

Lebih sering memuluskan dengar pendapat karena sebelumnya sudah di bagi Zakat. Namun akhirnya kami semakin pandai melupakan masalah karena kami tak tau lagi cara mengatasinya. Kami jadi pura-pura lupa karena rasanya setiap masalah hilang di isap udara.

Oh.. Tuhan! lepaskan kami, dari belenggu penjajah, kembalikan senyum yang dulu menghiasi wajah-wajah kami.

Penulis, Alumni WB Paket C  2009


Responses

  1. Terima kasih, tulisan yang kritis, logis dan analitis tapi sedikit narsis heheh

    BTW, thanks yah, sering2 kirim tulisan bro.

  2. emang alumni tahun berapa w juga anak pkbm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: