Posted by: PKBM26 | 15 January 2010

Mengintip Warisan Ki Hadjar Dewantoro

Ki Hajar DewantaraSiapa yang tidak kenal Ki Hajar Dewantara (2 Mei 1889–26 April 1959). Ternyata tokoh pendidik Indoensia ini, memiliki warisan penting bagi khazanah dunia pendidikan Indonesia. Warisan-warisan itu kini masih terawat dan kita bisa melihat bagaimana perjuangan beliau dalam rangka menancapkan tonggak pendidikan di Indonesia.

Warisan Pertama adalah Taman Siswa yang menjadi representasi institusi pendidikan pribumi pada masa kolonial dan tetap eksis sampai hari ini. Kedua adalah tulisan-tulisan Ki Hajar Dewantara dalam bidang pendidikan dan kebudayaan. Tulisan-tulisan itu dikumpulkan dan diterbitkan oleh Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa dalam buku Karya Ki Hadjar Dewantara Bagian I Pendidikan (1962) dan Karya Ki Hadjar Dewantara Bagian II: Kebudayaan (1967).

Kepiawaian dalam menulis karena beliau sejak muda menjadi penulis dan wartawan.

Ketiga, Buku Bagian I Pendidikan terbagi dalam 8 bab: pendidikan nasional, politik pendidikan, pendidikan kanak-kanak, pendidikan kesenian, pendidikan keluarga, ilmu jiwa, ilmu adab, dan bahasa. Tulisan tertua dalam buku ini yakni ’’Pendidikan dan Pengajaran Nasional’’ yang disampaikan sebagai prasaran dalam Kongres Permufakatan Pergerakan Kebangsaan Indonesia (PPPKI) pada 31 Agustus 1928. Ki Hadjar Dewantara dalam tulisan itu mengatakan bahwa kemerdekaan dalam dunia pendidikan memiliki tiga sifat: berdiri sendiri, tidak tergantung pada orang lain, dapat mengatur diri sendiri.

Buku Bagian II Kebudayaan terbagai dalam 5 bab:  kebudayaan umum, kebudayaan dan pendidikan/kesenian, kebudayaan dan kewanitaan, kebudayaan dan masyarakat, hubungan dan penghargaan kita.

Dua buku itu adalah representasi pemikiran dan pembuktian dalam praktik pendidikan dan pengajaran dari Ki Hadjar Dewantara. Pendidikan dan kebudayaan adalah basis kehidupan yang menentukan kualitas manusia dan bangsa.

* * *

Ki Hajar Dewantara Sekian pemikiran Ki Hadjar Dewantara dalam dunia pendidikan dan kebudayaan menjadi anutan dan inspirasi yang memberi kesadaran kritis atas peran pendidikan dalam konstruksi Indonesia. Perhatian Ki Hadjar terhadap pendidikan mulai intensif ketika menjadi orang politik yang dibuang dan diasingkan di Belanda (1913-1919). Pengasingan dan pembuangan itu bermula dari aktivitas politik dan jurnalistik Ki Hadjar. Fakta sejarah yang membuat Ki Hadjar Dewantara dijuluki sebagai politikus radikal adalah publikasi tulisan Als ik een Nederlanderwas (Seandainya Saya Seorang Belanda) pada 1913.

Selama di negeri Belanda Ki Hadjar Dewantara justru tekun belajar masalah pendidikan dan kebudayaan. Tiga tokoh pemikiran pendidikan yang memberi pengaruh besar terhadap Ki Hadjar Dewantara adalah Montessori, Rudolf Steiner, dan Rabindaranath Tagore. Ki Hadjar memutuskan untuk mendirikan Taman Siswa (1922) sebagai tindakan riil dalam perkara pendidikan dan kebudayaan dalam kuasa kolonialisme Belanda. Keputusan itu yang membuat Ki Hadjar yakin bahwa pendidikan dan kebudayaan adalah elemen penting dalam perlawanan terhadap kolonialisme. Pendidikan menjadi basis pembentukan identitas dan kepribadian manusia dan bangsa Indonesia.

Peran Ki Hadjar Dewantara dalam dunia pendidikan dan kebudayan mendapatkan pengakuan dari pemerintah Indonesia dalam bentuk penghargaan sebagai Bapak Pendidikan Nasional dan Pahlawan Nasional. Penghargaan juga dibuktikan oleh Universitas Gadjah Mada yang memberikan gelar doctor honoris causa. Penghargaan penting untuk hari ini yang mesti ditunjukkan adalah apresiasi terhadap pemikiran-pemikirannya dan ikhitiar untuk merealisasikan dalam dunia pendidikan Indonesia dengan kemungkinan interpretasi ulang dan pembaharuan.

* * *

Mengingat Ki Hadjar Dewantara dan merayakan Hari Pendidikan Nasional setiap 2 Mei adalah memperkarakan nasib dunia pendidikan Indonesia sekarang yang mengandung sekian dilema dan ambiguitas. Ki Hadjar Dewantara adalah penganjur dan penuntut bahwa pendidikan adalah hak rakyat Indonesia harus direalisaiskan dengan konstitusi dan sistem yang demokratis. Hak pendidikan itu sampai hari ini masih menjadi utang yang belum terlunaskan oleh pemerintah.

Pendidikan sebagai basis penentu identitas dan kepribadian manusia dan bangsa Indonesia justru dinodai dengan pelbagai pelanggaran etika, korupsi, komersialisasi, dan manipulasi. Dunia pendidikan Indonesia hari ini seakan mengambil jalan membelok yang mungkin tersesat tanpa ada referensi dan orientasi yang jelas.

Siapa mau belajar kembali pada Ki Hadjar Dewantara? Siapa mau membaca kembali buku-buku karyanya? (*)

*)  Bandung Mawardi, aktivis Pustaka ’’Kabut Insititut’’ Solo


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: